Sinopsis & Review Gerald’s Game, Terjebak Bersama Mayat
7 mins read

Sinopsis & Review Gerald’s Game, Terjebak Bersama Mayat

Bayangkan jika liburan bersama pasangan yang mulanya diharapkan menjadi liburan romantis berdua justru menjadi mimpi buruk yang mempertaruhkan nyawa. Peristiwa mengerikan ini yang dialami oleh si karakter utama dalam film Gerald’s Game.

Apa yang terjadi sebenarnya dan bagaimanakah cerita selengkapnya? Kamu bisa baca review dan sinopsisnya berikut ini!

Sinopsis

Gerald dan Jessie adalah sepasang suami istri yang pergi ke sebuah villa terpencil di tengah hutan untuk kembali menghangatkan hubungan pernikahan yang telah terasa hambar.

Di perjalanan, mereka sempat bertemu dengan seekor anjing yang kelaparan. Sesampainya di villa, Jessie pun memberi makan anjing tersebut. Kemudian keduanya segera bersiap untuk berhubungan seks.

Gerald yang sudah lama tak berhubungan dengan Jessie meminum Viagra untuk meningkatkan staminanya. Namun tampaknya ia meminum dengan dosis berlebihan.

Sementara itu, Jessie yang sudah mengenakan gaun tidur barunya sudah bersiap di tempat tidur. Rupanya, Gerald ingin melakukan hubungan seks yang berbeda dari biasanya dengan memborgol dua tangan Jessie ke tempat tidur.

Fantasi Gerald adalah dengan berpura-pura bahwa mereka tengah melakukan sebuah pemerkosaan. Setelah mencoba, Jessie mengatakan jika ia tak suka dan tak bisa melakukannya.

Keduanya pun kembali terlibat adu mulut hingga Gerald mengalami serangan jantung. Gerald langsung tak sadarkan diri dan terjatuh keras ke lantai hingga mengalami pendarahan hebat.

Jessie yang dua tangannya terborgol tak bisa melakukan apa pun. Ia berusaha berteriak meminta tolong, namun tak ada yang mendengarnya karena mereka berada di tempat terpencil.

Anjing kelaparan yang ditolong Jessie kemudian masuk ke kamar karena mencium aroma daging segar. Ia pun merobek-robek tubuh Gerald dan memakannya tepat di depan mata Jessie.

Berjam-jam kemudian, Jessie mulai berhalusinasi dan berbicara dengan pikirannya sendiri. Obrolannya dengan dirinya sendiri itu berwujud dialog antara dirinya dengan hantu Gerald dan sosok dirinya yang lain yang lebih berani dan berpikir logis.

Baca Juga : 

Resensi Film: Zodiac – Pembunuh Berantai Yang Tak Terungkap

Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak: Simbol Perjuangan Perempuan Demi Kebebasan

Dirinya yang lain itu pun memberi cara agar Jessie bisa meraih segelas air di atas tempat tidur saat ia mulai dehidrasi.

Semakin malam, Jessie pun merasa semakin kehilangan akal sehatnya. Ia mulai melihat sosok menyeramkan yang menghampiri tempat tidurnya. Terkadang Jessie juga tertidur karena kelelahan.

Dalam tidurnya, trauma masa lalunya pun kembali menghantui. Rupanya Jessie pernah mengalami pelecehan oleh ayahnya sendiri saat ia masih berusia 12 tahun.

Peristiwa itu terjadi saat mereka menyaksikan gerhana matahari. Bayang-bayang mengenai gerhana matahari itu pun terus datang ke pikiran Jessie.

Berada di ambang hidup dan mati membuatnya terus mengingat semua trauma masa lalunya hingga ia memutuskan untuk menikahi Gerald, pria yang jauh lebih tua dan berprofesi sebagai pengacara, sama seperti ayahnya.

Di hari kedua, Jessie sudah nyaris menyerah. Lengannya sudah membiru dan anjing yang kelaparan itu pun masih mengawasinya seolah menunggu kematiannya.

Dialog Jessie dengan dirinya sendiri akhirnya membuatnya mengambil keputusan. Jessie memecahkan gelas yang bisa ia raih dan merobek pergelangan tangan kanannya hingga sebelah tangannya bisa terlepas.

Menjelang malam, dua tangan Jessie pun berhasil terlepas dari borgol, meski sebelah tangannya mengalami pendarahan hebat.

Jessie juga kembali melihat sosok menyeramkan yang membawa sebuah kotak. Ia yang berasumsi bahwa sosok itu hanyalah halusinasinya menyerahkan cincin kawinnya dan pergi dari villa itu menggunakan mobil.

Meski sempat menabrak pohon, Jessie akhirnya berhasil ditemukan warga sekitar. Ia pun menjalani pemulihan dan meneruskan hidupnya. Namun kali ini ia tampak sudah berdamai dengan luka masa lalunya.

Jessie yang dulu memilih untuk menutupi luka itu dan menghindarinya, kini justru menerimanya hingga membuat yayasan untuk anak-anak yang menjadi korban sepertinya.

Beberapa bulan kemudian, Jessie mendengar berita mengenai tertangkapnya pencuri makam yang mengambil harta para mayat dan menyetubuhi mayat laki-laki.

Kriminal tersebut adalah sosok menyeramkan yang Jessie lihat di malam hari saat ia terborgol. Rupanya ia adalah sosok nyata dan bukan karena Jessie yang kehilangan kewarasan hingga berhalusinasi.

Horor Mencekam tanpa Adegan Menyeramkan

Tak seperti film-film horor pada umumnya yang mengandalkan adegan-adegan menyeramkan dan jumpscare yang terus-menerus, film berdurasi 103 menit ini justru menggambarkan suasana horor dengan cara yang lain.

Dengan alur cerita yang sebagian besar hanya berada di satu tempat saja yaitu di dalam kamar, kita justru akan dibuat lebih merinding selama menyaksikan apa yang terjadi.

Membayangkan bagaimana Jessie harus terborgol dan menunggu kematian bersama mayat suaminya yang sedikit demi sedikit dirobek anjing akan membuatmu merasakan suasana mengerikan yang justru lebih mencekam dibanding adegan-adegan seram di film horor biasanya.

Bahkan kita pun ikut dibuat bingung mengenai mana yang nyata dan manakah yang sebenarnya hanya ada di pikiran Jessie saja.

Adegan kilas balik yang dialami Jessie pun tak kalah memberikan suasana horror. Dengan sinematografi yang digambarkan secara surealis melalui warna merah ibarat warna langit saat gerhana matahari, kita akan dibuat ngeri setiap kali visual berwarna merah memenuhi layar.

Sinematografi berwarna merah ini seolah ingin menggambarkan jika Jessie tengah berada pada titik terlemahnya.

Setting Minimalis dan Dialog-Dialog Panjang

Dari awal hingga akhir, film ini juga hanya menggunakan setting lokasi yang sangat minimalis dengan sebagian besar cerita hanya mengambil setting di sebuah kamar saja.

Bagi kamu yang menyukai film-film bertemakan aksi, mungkin hal ini akan sedikit membuatmu jenuh. Namun sebenarnya alur cerita dari film ini akan membuat film tak terasa membosankan meski memiliki setting yang sederhana.

Tak hanya setting minimalis, film Gerald’s Game juga banyak mengandalkan kekuatan dialog-dialog panjang antar para karakternya. Dialog-dialog ini digunakan mulai dari tahapan eksposisi atau pengenalan karakter dan latar belakang mereka hingga konflik yang akhirnya dialami oleh si karakter utama.

Terkadang, dialog-dialog yang mereka ucapkan pun terasa begitu filosofis sehingga kamu harus benar-benar fokus mendengarkan apa yang mereka katakan agar tak tertinggal inti utama dari cerita yang disampaikan oleh para karakter di film ini.

Totalitas Akting Para Karakter Utama

Setting yang minimalis dengan dialog-dialog panjang yang ada dalam film ini tak terasa membuat film menjadi membosankan karena didukung dengan kualitas akting yang ditunjukan oleh para karakter utamanya.

Tak banyak aktor dan aktris yang membintangi film ini, bahkan bisa dibilang hanya ada dua karakter utama saja, yaitu Gerald dan Jessie.

Meski minim karakter, kita justru akan dibuat kagum dengan kualitas akting mereka. Terutama akting dari Carla Gugino yang memerankan karakter Jessie.

Ia mampu memerankan dua kepribadian Jessie yang bertolak belakang. Satu karakternya adalah Jessie yang nyaris menyerah dan putus asa menanti kematiannya, sedangkan satunya adalah Jessie yang optimis, berani, dan logis.

Begitu pula dengan aktor Bruce Greenwood yang juga memerankan Gerald sebagai dirinya sendiri dan Gerald yang merupakan bayangan dari pemikiran Jessie.

Selain keduanya, ada pula aktris cilik Chiara Aurelia yang memerankan karakter Jessie kecil. Aktingnya bahkan membuatmu bisa ikut merasa sakit dan patah hati saat melihat Jessie kecil yang mengalami trauma mendalam karena ayahnya sendiri.

Itulah review dan sinopsis dari film Gerald’s Game dengan hal-hal menarik di sepanjang filmnya yang membuat film ini layak kamu masukkan sebagai salah satu list tontonanmu.

Mari bayangkan jika apa yang terjadi pada Jessie juga terjadi padamu, apakah kamu akan menyerah dan menunggu saja atau melakukan hal yang sama seperti Jessie? Ceritakan di kolom komentar ya!